“Wa’alaikumsalam, iya, ini… Ishan? Ada yang bisa Ana bantu?” jawabku penuh tanya heran.
“Na’am, benar ukh. Ini Ishan. Ana tidak menganggu kan? Afwan.”
“Tidak, tafadhol. Ada apa?” suaraku coba menegaskan.
“Mm… langsung saja ukh. Afwan, ee… Ana boleh mengajukan ta’aruf dengan anti, ukhti?” suara tegas itu dengan perlahan memberanikan diri, tepat pada inti pembicaraan nampaknya.
“…..” kagetku bukan main, hampir lepas rasanya hp Samsung yang kutempelkan di telinga kiriku. Seraya kemudian menangkupkan telapak tangan kanan tepat di bagian jantungku, dan berujar amat pelan ‘masya Allah…’.
“…ukh, afwan. Jika sekiranya Ana lancang. Tapi, mohon kejelasan dari anti menanggapi hajat Ana ini.” Kembali suara di seberang itu memecah keheningan, sementara degup ini semakin kencang kurasa.
“…a-afwan, tidakkah Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum?”tanyaku, meneliti.
“Mm… sesudah ada tanggapan dari anti, akan Ana sampaikan ke beliau.”
“Masya Allah akh… ” kataku lepas.