Selasa, 22 Mei 2012

Nembak !


dakwatuna.com – “Assalamu’alaikum. Afwan, benarkah ini nomor ukh Reisha?” suara di seberang sana dengan khas yang tegas, tertangkap di telingaku.
“Wa’alaikumsalam, iya, ini… Ishan? Ada yang bisa Ana bantu?” jawabku penuh tanya heran.
“Na’am, benar ukh. Ini Ishan. Ana tidak menganggu kan? Afwan.”
“Tidak, tafadhol. Ada apa?” suaraku coba menegaskan.
“Mm… langsung saja ukh. Afwan, ee… Ana boleh mengajukan ta’aruf dengan anti, ukhti?” suara tegas itu dengan perlahan memberanikan diri, tepat pada inti pembicaraan nampaknya.
“…..” kagetku bukan main, hampir lepas rasanya hp Samsung yang kutempelkan di telinga kiriku. Seraya kemudian menangkupkan telapak tangan kanan tepat di bagian jantungku, dan berujar amat pelan ‘masya Allah…’.
“…ukh, afwan. Jika sekiranya Ana lancang. Tapi, mohon kejelasan dari anti menanggapi hajat Ana ini.” Kembali suara di seberang itu memecah keheningan, sementara degup ini semakin kencang kurasa.
“…a-afwan, tidakkah Antum mengkomunikasikan terlebih dahulu dengan murabbi Antum?”tanyaku, meneliti.
“Mm… sesudah ada tanggapan dari anti, akan Ana sampaikan ke beliau.”
“Masya Allah akh…  ” kataku lepas.

Photo Profil Tak Sekadar Aksi

"Ah, ngapain juga? Emang ini bisa merubah keadaan? Memangnya dengan berdemo dan beli-beli aksesoris Palestina bisa membuat Palestina menang?"
 
Saudaraku, tahukah anda seberapa besar arti sebuah solidaritas? Seberapa efektifkah rasa itu mencarikan jalan keluar setiap permasalahan. Mungkin Anda akan berpikir aksi-aksi solidaritas ini hanyalah sebuah kekonyolan. Apa pengaruhnya bagi Palestina kalau hanya turun dan berteriak di jalanan? Apa peduli Israel ketika bendera dan foto mereka mereka dihinakan, diinjak lalu dibakar? Toh mererka tetap ganas menangkapi dan mengusir warga Palestina dari tanahnya. Lalu apa pula hubungannya dengan aksi menyamakan foto profil facebook sebagai wujud solidarias untuk tawanan Palestina?

Jumat, 18 Mei 2012

Mengapa Wanita Menangis ?


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bertanya pada ibunya.

"Ibu, mengapa Ibu menangis?".
Ibunya menjawab, "Sebab aku wanita".

"Aku tak mengerti" kata si anak lagi.

Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
"Nak, kamu memang tak akan pernah mengerti...."

Kemudian anak itu bertanya pada ayahnya ...

"Ayah, mengapa Ibu menangis? .. Ibu menangis tanpa sebab yang jelas".

Sang ayah menjawab, "Semua wanita memang sering menangis tanpa alasan".

Hanya itu jawaban yang bisa diberikan ayahnya.